Oleh: Irma Nurilhanna
Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Kalimantan Utara 2023–2026
Ada orang yang kita kenal bukan dari pidato, jabatan, atau pencapaian yang tertulis di atas kertas, melainkan dari proses panjang yang kita jalani bersama. Kak Indri adalah salah satu dari mereka.
Saya mengenalnya bukan dari kejauhan, melainkan dari ruang-ruang rapat yang melelahkan, dari keputusan-keputusan yang harus diambil dalam waktu singkat, dan dari berbagai situasi yang memperlihatkan bagaimana seorang perempuan berusaha bertahan di ruang kepemimpinan yang belum sepenuhnya ramah bagi perempuan.
Perkenalan kami bermula di PD IPM Tarakan. Saat itu, Kak Indri menjabat sebagai Ketua Umum perempuan pertama, sementara saya menjadi Sekretaris Umum. Dari sana saya menyaksikan secara langsung bagaimana ia belajar mengambil ruang, menghadapi keraguan, dan membuktikan kapasitasnya di tengah berbagai pandangan yang belum sepenuhnya menerima kepemimpinan perempuan sebagai sesuatu yang biasa.
Dalam perjalanan itu, saya dua kali dipercaya menjadi Ketua Formatur pada momentum yang mengantarkan Kak Indri ke posisi kepemimpinan: pertama di PD IPM Tarakan dan kedua di PW IPM Kalimantan Utara. Dua kali pula saya menyaksikan bagaimana seorang perempuan dipercaya memimpin organisasi. Banyak orang melihat hasil akhirnya. Saya berkesempatan menyaksikan proses yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Salah satu hal yang paling saya pelajari adalah bahwa keraguan terhadap perempuan dalam kepemimpinan sering kali tidak hadir dalam bentuk penolakan yang terang-terangan. Ia muncul dalam pertanyaan-pertanyaan yang terdengar wajar, tetapi sesungguhnya mengandung standar yang berbeda.
Apakah ia cukup tegas? Mampukah ia mengambil keputusan yang sulit? Bisakah ia menghadapi tekanan organisasi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap beredar ketika perempuan maju sebagai pemimpin. Menariknya, pertanyaan yang sama tidak selalu diajukan kepada laki-laki dengan intensitas yang serupa. Di sinilah standar ganda itu bekerja: ketika perempuan tegas dianggap keras, ketika membuka ruang dialog dianggap kurang tegas, dan ketika berbicara lantang dianggap terlalu dominan.
Kak Indri tentu tidak luput dari situasi tersebut. Namun yang saya lihat, ia tidak menjawab keraguan itu dengan banyak argumen. Ia menjawabnya melalui kerja dan konsistensi. Tidak semua orang berubah pandangan, tetapi ia tetap melanjutkan tanggung jawabnya.
Yang juga penting untuk disampaikan adalah bahwa pemimpin tidak selalu hadir dalam wujud yang sempurna. Kak Indri pernah lelah, pernah kecewa, dan pernah berada dalam situasi yang sulit. Ada kritik yang datang dari arah yang tidak terduga, ada keputusan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan, dan ada tekanan yang tidak ringan untuk terus membuktikan diri.
Justru di situlah letak pelajaran terbesarnya. Kepemimpinan bukan tentang tidak pernah salah, melainkan tentang keberanian untuk tetap bertanggung jawab ketika keadaan tidak berpihak. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk tetap hadir dan terus berjalan meskipun langkah yang diambil tidak selalu mudah.
Pengalaman saya sebagai Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Kalimantan Utara semakin memperlihatkan sisi lain dari kepemimpinan tersebut. Salah satu hal yang paling saya ingat bukanlah program atau agenda formal organisasi, melainkan cara Kak Indri memandang kader.
Ia tidak pernah membiarkan seseorang berhenti pada titik yang sama. Ia mendorong kader-kadernya untuk berkembang, bahkan ketika mereka sendiri belum sepenuhnya yakin dengan kemampuannya. Saya termasuk salah satu yang merasakan hal tersebut.
Pada saat itu, dorongan tersebut sering terasa berat. Namun seiring waktu saya memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar menyiapkan orang untuk menjalankan program organisasi. Kaderisasi adalah upaya membantu seseorang menemukan dan mengembangkan potensi terbaik yang dimilikinya.
Karena itu, saya percaya warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah laporan program atau deretan kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Warisan terbesar seorang pemimpin adalah manusia-manusia yang tumbuh selama masa kepemimpinannya.
Tentu saja perjalanan itu tidak pernah sempurna. Ada keputusan yang mungkin keliru, ada konflik yang tidak terselesaikan dengan ideal, dan ada target yang tidak seluruhnya tercapai. Namun kepemimpinan yang bermakna tidak lahir dari kesempurnaan. Ia lahir dari kesediaan untuk belajar, bertanggung jawab, dan terus bergerak maju.
Bagi saya, makna terpenting dari perjalanan Kak Indri bukan sekadar fakta bahwa ia menjadi perempuan pertama yang memimpin PW IPM Kalimantan Utara. Yang lebih penting adalah jalan yang berhasil dibukanya bagi perempuan-perempuan setelahnya.
Menjadi yang pertama memang penting, tetapi membuka peluang bagi yang berikutnya jauh lebih berarti. Sebab keberhasilan sejati bukan hanya tentang mencapai posisi tertentu, melainkan tentang membuat posisi itu menjadi lebih mudah dijangkau oleh generasi setelah kita.
Sebagai seseorang yang menyaksikan perjalanan tersebut dari dekat, saya merasa beruntung dapat belajar dari proses yang tidak selalu mudah itu. Saya belajar bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan dramatis. Kadang keberanian hadir dalam bentuk yang sederhana: tetap bertahan ketika diragukan, tetap belajar ketika lelah, dan tetap melangkah ketika banyak orang mengira langkah itu akan berhenti.
Karena pada akhirnya, jalan yang dibuka hari ini bukan hanya milik mereka yang berjalan lebih dulu. Jalan itu adalah warisan bagi mereka yang akan datang kemudian.
Dan itulah yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini—bukan sebagai pujian, melainkan sebagai kesaksian.
Baca Juga :
Baca Juga :









