Memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar global. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Kenaikan harga energi ini tidak hanya berdampak pada sektor migas, tetapi juga merambat ke berbagai komoditas global, termasuk biji kopi.
Lonjakan harga minyak berimplikasi langsung pada peningkatan biaya logistik dan distribusi internasional. Industri kopi yang sangat bergantung pada transportasi laut untuk ekspor otomatis menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi. Selain itu, kenaikan harga energi turut meningkatkan ongkos produksi di tingkat hulu, mulai dari penggunaan bahan bakar untuk operasional kebun hingga proses pengolahan dan pengeringan biji kopi. Kondisi ini mendorong harga kopi di pasar berjangka dunia bergerak lebih volatil.
Sebagai salah satu produsen dan eksportir kopi utama dunia, Indonesia tidak terlepas dari dampak dinamika tersebut. Di satu sisi, kenaikan harga kopi global berpotensi meningkatkan nilai ekspor dan devisa negara. Petani dan eksportir bisa memperoleh harga jual lebih tinggi apabila tren kenaikan berlanjut. Namun di sisi lain, tekanan biaya produksi yang ikut meningkat dapat memangkas margin keuntungan, terutama bagi petani kecil yang memiliki keterbatasan modal dan akses pembiayaan.
Ketidakpastian geopolitik juga berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Jika terjadi pelemahan mata uang domestik akibat sentimen global, biaya impor pupuk, alat pertanian, dan kebutuhan produksi lainnya bisa ikut naik. Situasi ini berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap stabilitas harga komoditas dalam negeri, termasuk harga kopi di pasar lokal.
Pengamat ekonomi menilai bahwa konflik geopolitik berskala besar selalu menghadirkan dua sisi bagi negara produsen komoditas seperti Indonesia: peluang peningkatan ekspor sekaligus risiko tekanan biaya dan ketidakstabilan pasar. Oleh karena itu, penguatan rantai pasok domestik, diversifikasi pasar ekspor, serta stabilitas kebijakan ekonomi menjadi kunci untuk meredam dampak gejolak global terhadap sektor perkebunan kopi nasional.
Baca Juga :
Baca Juga :









