Kuat dalam Iman, Adil dalam Bertindak, Bermanfaat bagi Sesama

Akhlak Prioritas dalam Kehidupan Seorang Muslim
Kajian Ahad Pagi di Masjid Firdaus, Kampung Baru bersama Ustaz Dian Sandi Utama

Menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang seberapa kuat keyakinan kita kepada Allah, tetapi juga bagaimana iman tersebut terlihat dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Dalam kajian Ahad pagi di Masjid Firdaus, Kampung Baru, Ustaz Dian Sandi mengajak jamaah untuk merenungkan pesan dari Surah Al-Mumtahanah ayat 7–13. Ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seorang Muslim bersikap kepada sesama: tetap teguh dalam iman, berlaku adil, menjaga prinsip, serta menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Jangan Pernah Menutup Pintu Perubahan

Dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 7, Allah mengingatkan bahwa seseorang yang dahulu menjadi musuh pun bisa berubah menjadi orang yang dekat dan penuh kasih sayang.

Pesan ini mengajarkan kita untuk tidak mudah berputus asa terhadap seseorang.

Jangan terburu-buru mengatakan, “Dia tidak akan berubah.”

Kita tidak pernah tahu kapan Allah memberikan hidayah kepada seseorang. Hati manusia berada dalam kekuasaan Allah dan dapat berubah kapan saja.

Karena itu, tugas kita adalah terus mendoakan, mengajak kepada kebaikan, dan memberikan ruang bagi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.

Jangan menutup pintu yang masih Allah buka.

Berbeda Bukan Alasan untuk Berbuat Tidak Adil

Pada ayat 8, Allah mengajarkan bahwa perbedaan agama tidak menjadi alasan bagi seorang Muslim untuk meninggalkan sikap baik dan adil, selama tidak ada permusuhan dan kezaliman.

Hal ini mengingatkan kita bahwa Islam mengajarkan akhlak yang mulia kepada siapa pun.

Kisah Asma’ binti Abu Bakar juga memberikan pelajaran bahwa perbedaan keyakinan tidak serta-merta menghapus hubungan kemanusiaan.

Seorang Muslim tetap dapat berbuat baik, menjaga hubungan, membantu, dan menghormati sesama manusia.

Kepada sesama Muslim, kita memperkuat ukhuwah Islamiyah. Kepada sesama manusia, kita menjaga ukhuwah insaniyah.

Iman yang kuat tidak menjadikan seseorang kasar. Sebaliknya, iman seharusnya membuat hati semakin lembut dan tindakan semakin adil.

Lembut dalam Pergaulan, Teguh dalam Prinsip

Berbuat baik bukan berarti kita kehilangan prinsip.

Ayat 9 mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tetap memiliki batas yang jelas. Kita tidak diperintahkan untuk mendukung pihak yang memerangi atau menzalimi kaum Muslimin karena agama.

Dari sini kita belajar bahwa sikap seorang Muslim harus seimbang:

Lembut dalam pergaulan, tetapi tegas dalam prinsip.

Kita tidak perlu mencari permusuhan. Namun, ketika berhadapan dengan kezaliman, kita juga tidak boleh membenarkannya hanya karena hubungan, kepentingan, atau rasa suka.

Kebaikan harus berjalan bersama kebenaran.

Iman Membutuhkan Pengorbanan

Ayat 10–11 mengisahkan tentang perempuan-perempuan mukmin yang berhijrah dari Makkah menuju Madinah demi mempertahankan iman.

Mereka meninggalkan rumah, keluarga, harta, dan kehidupan yang mereka cintai.

Ini menunjukkan bahwa mempertahankan iman terkadang membutuhkan pengorbanan.

Namun ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Kita tidak boleh mudah menghakimi hati seseorang.

Kita hanya mampu melihat apa yang tampak dari perbuatan seseorang. Sementara keikhlasan, niat, dan isi hati adalah perkara yang Allah ketahui.

Karena itu, jangan mudah mengatakan:

“Dia tidak ikhlas.”
“Dia hanya pura-pura.”
“Dia tidak akan berubah.”

Kita boleh menilai sebuah perbuatan berdasarkan apa yang terlihat, tetapi jangan merasa menjadi hakim atas hati manusia.

Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam hati setiap hamba-Nya.

Ayat 11 juga mengingatkan tentang hak dan keadilan, termasuk persoalan harta dan mahar. Artinya, perbedaan, konflik, ataupun persoalan pribadi tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk mengabaikan hak orang lain.

Iman harus melahirkan keadilan.

Setia, tetapi Jangan Membela Kesalahan

Pada ayat 12, Allah menyebutkan baiat kaum perempuan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak membuat kebohongan, dan tidak mendurhakai Rasulullah ﷺ dalam perkara yang baik.

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa kesetiaan harus berada di jalan kebaikan.

Kita boleh mencintai keluarga, sahabat, organisasi, maupun orang-orang yang dekat dengan kita. Tetapi jangan sampai rasa cinta membuat kita membela sesuatu yang salah.

Jangan karena teman yang melakukan kesalahan, kita ikut membenarkannya.

Jangan karena orang yang kita cintai melakukan kezaliman, kita menutup mata.

Setia kepada manusia, tetapi jangan pernah mengorbankan ketaatan kepada Allah.

Jangan Berpihak kepada Kezaliman

Pada ayat 13, Allah kembali mengingatkan orang-orang beriman agar tidak memberikan loyalitas kepada pihak yang bertentangan dengan nilai iman dan kebenaran.

Pelajaran ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Terkadang seseorang membela sesuatu bukan karena benar, tetapi karena siapa yang melakukannya.

Karena teman.
Karena keluarga.
Karena hubungan.
Karena kepentingan.
Atau karena rasa suka.

Padahal seorang Muslim harus menjadikan kebenaran sebagai dasar dalam menentukan sikap.

Jangan karena dekat, yang salah dibela. Jangan karena tidak suka, yang benar dizalimi.

Tiga Bekal Penting Seorang Muslim

Jika dirangkum, Surah Al-Mumtahanah ayat 7–13 mengajarkan tiga hal besar yang perlu kita tanamkan dalam kehidupan.

1. Kuat dalam Iman

Kuat dalam iman berarti tidak mudah goyah dan tidak menjual prinsip demi kepentingan sesaat.

Baca Juga : 

Baca Juga

Namun kekuatan iman bukan berarti keras kepada semua orang.

Iman yang kuat justru membuat hati semakin dekat kepada Allah dan semakin baik dalam memperlakukan sesama.

2. Adil dalam Bertindak

Adil berarti tidak membenci secara buta dan tidak pula mencintai secara berlebihan hingga membenarkan kesalahan.

Kita belajar menilai sesuatu berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan siapa yang melakukannya.

Kita juga belajar untuk tidak menghakimi isi hati manusia.

3. Bermanfaat bagi Sesama

Seorang Muslim hendaknya menjadi seseorang yang kehadirannya membawa manfaat.

Menolong ketika mampu.
Menjaga silaturahmi.
Mendoakan orang lain.
Mendamaikan ketika terjadi perselisihan.
Meringankan kesulitan.
Dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada.

Karena keberadaan seorang Muslim seharusnya tidak menjadi sumber masalah, tetapi menjadi sumber kemaslahatan.

Akhlak adalah Cermin dari Iman

Jamaah yang dirahmati Allah,

Dari Surah Al-Mumtahanah ayat 7–13 kita belajar bahwa iman tidak berhenti di dalam hati.

Iman harus terlihat dalam akhlak.

Ketika iman kuat, hati seharusnya menjadi lebih lembut.
Ketika hati lembut, tindakan seharusnya menjadi lebih adil.
Dan ketika tindakan kita adil, keberadaan kita akan lebih bermanfaat bagi sesama.

Inilah sosok Muslim yang perlu kita perjuangkan bersama:

Imannya kuat, tetapi hatinya lembut.
Prinsipnya teguh, tetapi tindakannya adil.
Tidak mudah membenci dan tidak mudah menghakimi.
Hadir untuk menyatukan, bukan memecah belah.
Menjadi sumber manfaat, bukan sumber masalah.

Sebab pada akhirnya, akhlak adalah salah satu cermin dari kualitas iman seseorang.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kuat dalam iman, adil dalam bertindak, lembut dalam hati, dan senantiasa bermanfaat bagi sesama.

“Iman yang kuat melahirkan hati yang lembut; hati yang lembut melahirkan tindakan yang adil; dan tindakan yang adil menjadikan kita bermanfaat bagi sesama.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  • Related Posts

    Ustaz Dian Sandi Berbagi Hikmah di Tana Lia

    TANA LIA, KALTARA — Semangat menebar ilmu dan menguatkan nilai-nilai keislaman terus dilakukan melalui berbagai kegiatan dakwah. Kali ini, Ustaz Dian Sandi hadir dalam kegiatan Day Care Sekolah Lansia Aisyiyah…

    Lanjutkan Membaca
    Sekolah Lansia Aisyiyah di Tana Lia Dibangun Lewat Kolaborasi Lintas Sektor

    TANA LIA – Pengembangan layanan bagi kelompok lanjut usia di Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Hal itu terlihat dalam peluncuran Daycare Lansia Aisyiyah…

    Lanjutkan Membaca

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    SDN 012 Tarakan Kembangkan Digitalisasi Pendidikan, Ujian hingga Pemantauan Siswa Berbasis Aplikasi

    SDN 012 Tarakan Kembangkan Digitalisasi Pendidikan, Ujian hingga Pemantauan Siswa Berbasis Aplikasi

    Forum Guru Muhammadiyah Tarakan Resmi Dilantik: Wiliah Tegaskan Komitmen Mencerahkan Pendidikan Berkarakter”

    Forum Guru Muhammadiyah Tarakan Resmi Dilantik: Wiliah Tegaskan Komitmen Mencerahkan Pendidikan Berkarakter”

    FGM Tarakan dan STIMIK PPKIA Jalin Sinergi Digital: Guru Muhammadiyah Siap Hadapi Era Pembelajaran Modern”

    FGM Tarakan dan STIMIK PPKIA Jalin Sinergi Digital: Guru Muhammadiyah Siap Hadapi Era Pembelajaran Modern”

    INSTEKMU Tarakan dan APINDO Kaltara Jalin Kemitraan Strategis, Bahas Kebutuhan Tenaga Kerja Lokal

    INSTEKMU Tarakan dan APINDO Kaltara Jalin Kemitraan Strategis, Bahas Kebutuhan Tenaga Kerja Lokal

    Akses Internet di SMA Kaltara Terimbas Efisiensi Anggaran, Fokus Dialihkan ke Wilayah 3T

    Akses Internet di SMA Kaltara Terimbas Efisiensi Anggaran, Fokus Dialihkan ke Wilayah 3T

    SD Muhammadiyah 2 Tarakan Deklarasi Sekolah Ramah Anak dan Sekolah Bersinar

    SD Muhammadiyah 2 Tarakan Deklarasi Sekolah Ramah Anak dan Sekolah Bersinar